Showing posts with label Hidup Mewah. Show all posts
Showing posts with label Hidup Mewah. Show all posts

Thursday, August 6, 2015

Adat Kebiasaan Aneh


 Penguburan Oei Tiong Ham
Kemawahan hidup yang ultra mewah itu barang tentu hanya dimungkinkan karena kekayaan Oei Tiong Ham sendiri yang luar biasa banyaknya. Sementara sumber mengatakan bahwa pada tahun 1915 jumlah pendapatannya saja tiap tahun telah mencapai dua milyun gulden dan dengan pendapatan sebesar itu sementara pihak telah menyatakan bahwa ia merupakan orang yang paling kaya sendiri diseluruh Hindia Belanda.

Sebagai seorang yang kaya raya Oei Tiong Ham tidak sedikit terdengar sering memiliki adat kebiasaan yang rada aneh. Di samping setiap pagi selalu menghabiskan waktunya selama dua jam dengan mengurung diri di kamar sembahyangnya yang teratur dan rapi, untuk sarapan paginya Oei Tiong Ham memulai acaranya dengan makan sejumlah kecil buah mangga atau buah pepaya, diikuti de­ngan semangkuk bubur panas dan sebagai klimaksnya dengan menyantap enam buah telur goreng dan beberapa iris makanan segar yang diberi lemak babi, serta ditutup dengan minum beberapa mangkok teh. Untuk menenangkan rasa tegang-nya setelah makan semua-nya itu Oei Tiong Ham juga tercatat telah memerlu kan untuk merokok dua buah cerutu yg tebal dan besar bentuknya.

Tidak ubahnya dengan orang-orang kaya pada zaman itu, Oei Tiong Ham juga mempunyai banyak isteri. Jumlah seluruh isterinya tidak tanggung-tanggung - ada delapan orang banyaknya, sedang jumlah anak yang di perolehnya dari hasil per-kawinannya dengan isteri-istri nya yang delapan orang itu, seluruhnya berjumlah 26 orang terdiri dari 13 orang anak lelaki dan 13 orang anak perempuan.

Pada tahun 1898 Oei Tiong Ham dengan resmi telah diangkat oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai seorang Kapitein Tionghoa di kota Semarang. Namun karena kesibukan perdagangannya ia cuma dua tahunan menduduki jabatan itu dan kemudian mohon izin untuk mengundurkan diri. Walaupun demikian, sebagai imbalan atas jasanya, Pemerintah Hindia Belanda masih merasa perlu untuk memberikan suatu penghormatan kepadanya dan demikianlah dengan menimbang kesibukan dan aktivitas perdagangnnya pada tahun 1901 ia telah diberi anugerah gelaran sebagai Mayor Tituler

Dua puluh tiga tahun setelah kejadian itu, tepatnya pada tgl. 2 Juni 1924 Oei Tiong Ham telah menutup mata untuk selama-lamanya di Singapura. Jenazah nya kemudian dibawa ke Semarang dan dimakamkan di Simongan. Tidak dengan upacara penuh kebesaran sebagaimana layak-nya seorang hartawan Tionghoa yang kaya raya, bahkan tercatat pernah dituding sebagai orang yang paling kaya raya sendiri di seluruh Hindia Belanda pada tahun 1915-an, namun hanya dengan upacara yang sederhana saja sesuai dengan permintaan yang terakhir.

Istana di Gergaji

 Rumah Oei Tiong Ham
Lain daripada kedua peristiwa itu dalam lembaran sejarah Semarang Oei Tiong Ham juga tercatat merupakan orang Tionghoa yang pertama di kota Semarang yang telah berhasil mendapatkan izin untuk tertempat tinggal di daerah Gergaji,yang pada masanya merupakan sebuah tempat pemukiman untuk orang-orang Eropah, sementara berdasarkas 'wijkenstelsel" sebagai seorang Tionghoa ia seharusnya bertempat tinggal di Pecinan dan tidak boleh di tempat lain!

Sekalipun oleh    ayahnya telah  diberi  pendidikan mengenai  ajaran  penghematan, berbeda benar dengan mendiang ayahnya sendiri Oei Tiong Ham hidup dengan mewah sekali. Istananya di Gergaji   misalnya,   tidak  hanya megah dan luas    dan dibangun dengan langgam bangunan Belanda, namun juga di sertai  dengan sebuah petamanan yang luas lagi indah komplit disertai dengan se­buah kebun binatang pribadi di mana dipelihara berbagai macam binatang seperti beruang, ular, burung merak dan burung  kasuwari,  kera dan menjangan. Kebun binatang peribadi itu tiap pekan sekali dibuka untuk umum dengan karcis masuk yang murah harganya dan di kalangan masyarakat Semarang sangat terkenal sebagai suatu tempat rekreasi yang termasyhur dengan nama  julukannya  ”Kebon Rojo".

Kemewahan- hidupnya lebih-lebih lagi Nampak sekali dengan cara yang sangat menyolok dalam cara-cara kehidupannya sehari-hari. Mengenai hal ini Ny. Wellington Koo dalam auto biorgraphinya menulis diantaranya bahwa.

"Ayah — katanya— menghargai kehidupan yang baik dan menikmati kesenangan dalam adat kebiasaan yang sangat baik, hingga rumah kami dibangun dengan ukuran yang tidak biasa pernah terdapat di pulau Jawa, di mana gaji para buruh mu­rah adanya dan pelayan-pelayanpun mudah dilatih.

Kepala rumah tangga ayah adalah seorang Melayu yang membawahi 40 orang pelayan. Langsung di bawahnya terdapat seorang mandor bujang bangsa Me layu pula yang membawahi 16 orang pelayan. Mereka sangat cakap dalam mengatur meja makan dengan parlentenya yang anggun dan bergaya.

Penyediaan  makan bagi ayah saya merupakan tugas yang sukar, karena ia merupakan seorang yang sangat doyan makan. Pada suatu malam ia bisa memerlukan untuk menyediakan masakan Tionghoa dan pada malam berikutnya bisa pula memerlukan suatu serial masakan Perancis.

Untuk memuaskan keinginannya ada tiga buah dapur yang berasap secara serentak. Dapur yang satu menyediakan masakan-masakan Tionghoa, yang lain masakan masakan Eropah sementara dapur yang ketiga hampir seluruhnya digunakan untuk mempersiapkan keinginannya yang istimewa dan terus menerus untuk menciptakan antaran makanan yang lezat-lezat guna disajikan pada para pejabat pemerintah Belanda.

Di dapur-dapur itu ada empat  koki Tionghoa dan seorang juru masak kepala bangsa Melayu yang mempunyai kecakapan dalam cara memasak ala Perancis. Ia adalah seorang seniman yang sangat bagus yang telah berhasil membuat reputasi di restoran Belanda dan sebelumnya juga pernah bekerja sebagai juru masak kepala untuk kepentingan Gubernur Jendral Belanda di Betawi pula.

Tiga buah dapur itu masing-masing tegak berdiri sebagai suatu kesatuan yang saling terpisah. Masing-masing dapur itu memiliki juru masaknya masing-masing lengkap dengan staffnya. Mereka melakukan perbelanjaan sendiri dan hanya bertanggung jawab kepada kepala rumah tangga, yang tiap minggu sekali melakukan pengecekan atasnya.

Baik istana maupun halaman istana Oei Tiong Ham yang terletak di Gergaji pada waktu itu dengan sengaja telah diserahkan pengawasannya pada empat orang penjaga khusus. Dan keempat orang itu bukannya orang Tionghoa, orang Jawa maupun orang orang Melayu, namun keempat orang penjaga itu justru adalah orang Ne­gro yang berasal dari Afrika dan hanya sedikit saja yang bisa berbahasa Mela­yu. Orang Jawa di Semarang pada waktu itu banyak yang menjulukinya dengan nama olok-olok, seba­gai "Londo Ireng".

Konservatif dan Modernisasi

Istana Oei Tiong Ham
Selama hidupnya Oei Tjie Sien terkenal sebagai seorang Tionghoa totok yang sangat konservatif dan terikat niat pada adat kebiasaan nesek moyangnya. Ia memegang teguh adat kebiasaan untuk mengenakan tau-tjang yaitu memakai kucir di kepalanya, suatu adat kalangan masyarakat Tionqhoa kebiasaan yang umum di pada masa itu. la sangat menekuni ajaran agamanya dan selalu merayakan dengan  penuh khimad hari besar orang Tionghoa. Ia selalu mengenakan pakaian tradisionil yang biasa dikenakan oleh orang Tionghoa pada zaman nya.
Ia juga tercatat jarang benar makan bersama dengan anggauta keluarganya. Jika ia toh melakukannya, maka hal itu merupakan suatu ke istimewaan dan dalam kesempatan itu ia akan selalu memberikan pelajaran-pelajaran mengenai kebajikan dan penghematan pada anak-anaknya. Meskipun demikian nampaknya ia tidak boleh dibilang sebagai seorang kepala keluarga yang pelit. Tiap pagi hari ia tidak lupa selalu memberi jajan satu sen pada cucunya.
Oei Tiong Ham alias Oen Tiong merupakan anak lelaki yang paling tua sendiri dari Oei Tjie Sien. la melewatkan masa mudanya dengan bersekolah di sebuah sekolah  Tionghoa tradisionil yang pada masa itu terkenal dengan nama soe-siok dan kemudi-an belajar bahasa Melayu dan huruf Latin. Setelah dewasa ayahnya mulai melatih nya berdagang dan sedikit demi sedikit menariknya dari lingkungan perdagangan ke­luarganya.
Dalam banyak hal Oei Ti­ong Ham berbeda benar dengan ayahnya. Ia adalah seorang pribadi yang menyukai angin modernisasi dan terbuka dalam menerima pengaruh Barat. Setelah ayahnya meninggal misalnya, ia mengajukan permohonan pada Pemerintah Hindia Belanda untuk memotong tauwtjang alias kucir rambutnya dan memohon izin pula untuk memakai pakaian Eropah. Permohonannya ternyata di kabulkan dan setelah izin untuk melakukan kedua hal itu diperolehnya, Oei Tiong Kam segera memotong ku­cir rambutnya dan mengenakan pakaian Eropah yang di inginkannya. Peristiwa itu yang terjadi pada tahun 1902 merupakan suatu peristiwa yang bersejarah karena dengan peristiwa itu Oei Tiong Ham tercatat sebagai orang Tionghoa pertama yang pada waktu itu telah berhasil mendapatkan izin dari Pemerintah Hindia Belanda untuk me­motong kucirnya dan mengenakan pakaian yang lazim dikenakan oleh orang-orang Eropah.

Gedong Batu

 Gedong Batu
Demikianlah dari seorang pedagang kecil Oei Tjie Sien akhirnya berhasil menjadi menantu seorang tuan tanah di Pecinan Semarang dan di tahun 1870 telah berhasil pula membeli daerah Simongan dari seorang tuan tanah Yahudi bernama Johannes.
Pembelian itu bukannya tidak ada sebab musababnya. Menurut sumber-sumber yang layak dipercaya, pada masa itu Johannes telah menarik pajak  pada orang-orang Tionghoa yang datang ke Gedong Batu dengan maksud untuk ber sembahyang tiap tanggal satu dan lima belas bulan Ti­onghoa tiba. Oei Tjie Sien merasa muak menyaksikan perbuatan  tuan tanah Yahudi yang mata duitan itu. Ia bermaksud mengakhirinya dengan jalan membeli tanah Simongan itu. Dan usahanya ternyata berhasil.
Pada masa itu orang-orang Tionghoa di kota Semarang ti­dak boleh bertempat tinggal di kawasan lain kecuali di Pecinan Semarang. Larangan itu diadakan tidak lain dengan maksud agar Pemerintah Hindia Belanda dengan mudah dapat mengawasi gerak-gerik mereka. Namun Oei Tjie Sien ternyata berhasil menerobos larangan itu. Pada tahun 1880 ia telah berhasil mendapatkan izin dari pihak Pemerintah Hindia Belanda untuk bertempat tinggal di daerah Simongan yg baru saja dibelinya. Dan ti­dak hanya itu saja. Kecuali sebagai tempat tinggal, ia juga telah menentukan untuk menjadikan  sebagian dari kawasan itu sebagai tempat kuburan bagi keluarganya. Hasrat hatinya yang terakhir itu ternyata juga tidak sia-sia. Kecuali para keluarganya ketika Oei Tjie Sien sendiri meninggal, maka  jenasahnya juga telah dimakamkan di kawasan yang telah dipilihnya sebagai tempat kuburan familinya, meskipun hio-hweenya dikirim ke Amoy – di negeri leluhurnya.

Dari Pemberontak Jadi Pedagang

Kantor Oei Tiong Ham

Banyak cerita-cerita tentang yang melegenda tentang Oei Tiong Ham. Ada yang menarik hati dan menawan perasaan, namun ada juga yang bisa menggetarkan hati sanubari para pembacanya.
Salah sebuah diantara-nya menceritakan bahwa Oei Tiong Ham telah memulai karierrnya sebagai seorang pedagang kecil yang miskin, hanya sebagai seorang penjual kacang saja di  kota Semarang. Namun karena keuletan dan kehematannya, sedikit demi sedikit ia berhasil mengumpulkan modal yang cukup besar hingga berhasil menjadi seorang pedagang yang ternama di kota Semarang, berhasil mendirikan sebuah pabrik gula dan akhirnya — karena berbagai macam usahanya — berhasil pula menjadi seorang pedagang dan sekaligus seorang tuan tanah yang paling kaya raya sendiri di kota Semarang.
Namun cerita itu tidak benar sama sekali. Oei Tiong Ham adalah anak seorang pedagang yang hartawan dan telah memulai karirnya sebagai tangan  kanan dari ayahnya sendiri, seorang pedagang yang sangat terkenal kaya raya pada masanya.   
Oei Tjien Sien  alias; Soe Khiem — demikian nama ayah Oei.Tiong Ham itu — pada pertengahan kedua abad ke 19 sudah terhitung sebagai salah seorang yang terkenal di kalangan masyarakat Tionghoa di Semarang. Sebagai seorang pedagang namanya sangat disegani dan banyak orang yang memberi rasa  hormat kepadanya.
Ia dilahirkan  tepat pada tahun 1835 di daratan Tiongkok, di sebuah dusun kecil bernama Li lim-sia yang ter letak di distrik Tong-an karesidenan Tjoan-tjioe di propinsi  Fukien di Tiongkok Selatan, dan merupakan anak lelaki nomor enam dari keluarga Oei Tjhin In seorang petani —.
Pada tahun 1858 — jadi ketika ia telah berusia 23 tahun—, sebagai akibat dari perasaan gelisah yang pada waktu itu sedang berjangkit di daratan Tiongkok sebagai akibat dari Perang Candu dan kegagalan pemberontakan Taiping, Oei Tjie Sien yg pernah ikut pula sebagai seorang pemberontak dalam huru-hara itu, akhirnya memutuskan untuk pergi merantau meninggalkan tanah leluhur nya, pergi jauh berlayar ke arah selatan, menuju ke pulau Jawa dan mendarat di kota Semarang.
Di kota  ini ternyata  bintang  kemujurannya bersinar terang Ny. Wellington Koo alias Koo Hin Lan anak perempuan kedua dari Oei Tiong Ham dan cucu dari Oei Tjie Sien sendiri dalam sebuah autobiographinya pernah menceritakan bahwa pada masa itu kakeknya telah membuka lembaran sejarah baru dengan bertempat tinggal di Pecinan sebagai seorang pedagang kecil. Pada suatu malam — demikian katanya  ketika ia sedang tidur lelap, tiba-tiba ada seorang tuan tanah di Pecinan datang berkunjung ke rumahnya. Begitu melihat Oei Tjie Sien, tuan tanah di Pecinan itu yang nota bene juga pernah ikut dalam suatu pemberontakan di Tiongkok — telah menjadi sangat terkejut. Tanpa disangka-sangka ia telah meli­hat seberkas cahaya berada tepat di kepala pedagang kecil yang berasal dari desa Li lim—sia tersebut. Peristiwa yang ajaib itu berjalan berulang kali setiap malam, hingga akhirnya tuan tanah di Pecinan itu mengambil keputusan untuk mengambil pedagang kecil itu sebagai menantunya. Dan Oei Tjie Sien  ternyata juga tidak menolaknya.